Kamis, 05 Juli 2018
PERCAYA WALAU TIDAK MELIHAT
How are you today....?
Nats: ayat 25
Yohanes 20:24-29
Tetapi Tomas berkata kepada mereka, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (Yohanes 20:25)
Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 60-66
No pic hoax! Komentar ini lumayan populer di antara pengguna jejaring sosial, khususnya Twitter. Jika ada orang yang mengabarkan suatu hal yang unik, mengejutkan, atau mengherankan, namun tanpa melampirkan foto sebagai pendukung, biasanya ada orang lain yang menimpali dengan komentar itu. Tanpa bukti berupa foto, kabar itu dianggap bohong.
Tomas bersikap seperti itu ketika murid-murid lain menceritakan perjumpaan mereka dengan Tuhan yang telah bangkit. Ia ingin melihat sendiri dan menyentuh sendiri bekas luka pada tubuh Tuhan sebelum percaya akan kebangkitan-Nya.
Kita kerap merendahkan iman Tomas itu, menganggapnya sebagai iman kelas dua. Menariknya, para murid lain tidak berkomentar apa-apa terhadap keraguan Tomas. Mereka tetap menerimanya. Buktinya, Tomas bersama dengan mereka saat Yesus menampakkan diri lagi. Tuhan Yesus juga tidak mencela sikap Tomas, melainkan langsung menyodorkan bukti yang Tomas harapkan. Berhadapan dengan bukti itu, Tomas mengucapkan pengakuan iman yang tajam: "Ya Tuhanku dan Allahku!” (ay. 28). Meskipun kemudian Yesus menunjukkan jalan iman yang lebih baik—“tidak melihat, namun percaya” (ay. 29)—toh Dia memberi ruang pada keraguan Tomas.
Bagaimana kita menanggapi keraguan atau pertanyaan kritis seputar iman? Segera mencela dan menepiskannya? Atau memberi orang itu ruang untuk bergumul, mendampinginya tanpa bersikap merendahkan (bdk. Roma 14:1)? Ketika keraguan itu memperoleh jawaban, kita akan menemukan pengakuan iman yang kokoh.
JAYAPURA, 05 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.
Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id
Rabu, 04 Juli 2018
BERBESAR HATI
How are you today....?
Nats: ayat 30
Yohanes 3:22-36
Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.
Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 52-59
Charles Dickens pernah memberikan pernyataan tentang siapakah sebenarnya orang yang disebut terbesar itu. Ia berkata, “Ada orang besar yang menjadi besar dengan cara mengecilkan dan merendahkan orang lain. Tetapi, seorang besar sejati adalah seorang yang mampu membuat setiap orang merasa dirinya besar.”
Hampir setiap orang ingin menjadi nomor satu dan terkemuka. Tidak semua orang mempunyai kebesaran hati untuk menjadi orang nomor dua. Namun, Yohanes Pembaptis memahami benar arti sebuah kebesaran sejati. Di saat begitu banyak orang mulai ribut dan membanding-bandingkannya dengan Yesus, Yohanes Pembaptis justru menunjukkan kebesaran hatinya. Pernyataannya bahwa Yesus harus makin besar, tetapi ia harus makin kecil menunjukkan betapa ia tidak berusaha membesarkan dirinya sendiri. Ia tahu panggilan Tuhan baginya sebagai pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang (ay. 28). Tujuan hidupnya adalah mengarahkan hati orang-orang kepada Yesus, Sang Mesias, dan bukan kepada dirinya sendiri.
Bagaimana dengan kita? Bagaimana reaksi kita ketika di hadapan kita berdiri orang-orang yang siap menggantikan posisi kita? Apa reaksi kita ketika banyak orang mulai membanding-bandingkan kemampuan kita dengan orang lain? Apakah kita mulai terganggu? Seorang besar sejati tentu tidak akan terganggu dengan semua itu. Sebaliknya, ia akan menunjukkan kebesaran hatinya untuk membuat orang lain merasa dirinya besar. Ia akan memberi dukungan dan turut senang dengan keberhasilan orang lain
JAYAPURA, 04 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.
Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id
Selasa, 03 Juli 2018
BIARLAH IA MENGUTUK
How are you today....?
Nats: ayat 10
2 Samuel 16:5-14
Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?
Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 46-51
Peristiwa tawuran mengisyaratkan lemahnya karakter para pelakunya. Gejolak hati yang penuh kebencian terungkap baik secara lisan maupun melalui tindakan saat para pelajar itu bertikai. Ungkapan lisan yang penuh amarah segera bergeser menjadi pertarungan fisik yang sengit. Tragisnya, tawuran tak jarang menyebabkan tewasnya beberapa pelaku.
Daud bersikap lain. Ketika melarikan diri dari Yerusalem, ia bertemu dengan Simei bin Gera, kaum keluarga Saul (ay. 5). Sepanjang perjalanan, Daud dan rombongan mendengarkan perkataan kutukan Simei. Kutukan yang lahir dari kepahitan dan kebencian. Tidak cukup dengan perkataan, Simei juga melempari rombongan Daud dengan batu (ay. 6). Abisai, salah seorang pegawai raja, marah dan meminta izin Daud untuk memenggal kepala Simei. Daud malah menegur Abisai dan mengatakan bahwa hal itu bukan urusannya. Menurut Daud, jika Tuhan menghendaki Simei mengutuk, tidak ada seorang pun yang dapat mengalanginya. Daud tidak mencari-cari kesempatan untuk membalas perbuatan Simei. Ia yakin dan percaya penuh akan kedaulatan Tuhan. Tuhan sajalah yang dapat mengendalikan setiap situasi yang ia hadapi (ay. 10-13).
Bagaimana dengan kita? Ketika kita menghadapi perkataan yang menyakitkan atau tindakan yang membangkitkan kemarahan, hati kita adalah kunci utamanya. Maukah kita, seperti yang telah Daud lakukan dalam menghadapi Simei, bersabar dan menyerahkan situasi tersebut ke dalam kendali Tuhan?
JAYAPURA, 03 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.
Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id
Senin, 02 Juli 2018
TETAP PERCAYA ATAU PROTES??
How are you today....?
Nats: ayat 10
Ayub 1-2
Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?
Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 40-45
Ayub orang terkaya pada masanya, saleh dan takut akan Allah. Dia memiliki banyak harta dan hidupnya damai sejahtera. Dia menikmati hari-harinya dengan bersemangat. Lalu, Tuhan mengizinkan Iblis mengambil semua yang ia miliki. Seluruh tubuhnya—dari telapak kaki sampai batu kepalanya—pun penuh dengan barah busuk. Orang dapat melihat dengan jelas betapa berat penderitaan. Tetapi, Ayub tidak protes: “Saya sudah melakukan semua kehendak-Mu, mengapa hal ini terjadi sama saya?” Ayub justru berkata, “Aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal Firman Yang Mahakudus” (Ayub 6:10). Artinya, Ayub siap menerima baik perkara yang baik maupun perkara yang buruk dari Tuhan.
Ketekunan Ayub berbuah. Pada pasal terakhir kitab Ayub, Tuhan memulihkan keadaan Ayub dan Tuhan memberikan kepadanya dua kali lipat dari segala kepunyaannya dulu. Ayub memilih tetap berpegang pada Tuhan, entah dalam keadaan baik entah dalam keadaan buruk. Terbukti, Tuhan tidak pernah membawa kita kepada keadaan yang melampaui kekuatan kita.
Mungkin yang kita alami tidak separah pengalaman Ayub. Namun, saat melewati keadaan yang buruk, masih bisakah kita percaya penuh pada Tuhan dan janji-janji-Nya? Apa yang kita lakukan jika bisnis kita gagal atau terjadi peristiwa yang tidak kita harapkan, padahal kita sudah aktif dalam pelayanan? Apakah kita akan protes atau tetap percaya bahwa janji Tuhan itu ya dan amin?
JAYAPURA, 02 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.
Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id
Minggu, 01 Juli 2018
GEREJA YANG MEMILIKI VISI
Shalom...
ini adalah bahan kotbah saya di gereja GBI. ROCK Jayapura pada hari Minggu, 01 Juli 2018.
Semoga bisa menjadi berkat bagi saudara yang membaca.
God Bless...
ini adalah bahan kotbah saya di gereja GBI. ROCK Jayapura pada hari Minggu, 01 Juli 2018.
Semoga bisa menjadi berkat bagi saudara yang membaca.
God Bless...
Sabtu, 30 Juni 2018
STIGMA NEGATIF
How are you today....?
Nats: ayat 1
Yakobus 2:1-13
Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 36-39
Masyarakat cenderung menerakan stigma tertentu pada golongan orang tertentu. Orang yang pernah menginap di lembaga pemasyarakatan, misalnya, tak ayal mendapatkan stigma negatif dan cenderung disingkiri. Tidak sedikit narapidana yang kesulitan berbaur kembali dengan masyarakat ketika masa hukumannya usai. Akibatnya, alih-alih kembali bermasyarakat, mereka malah terjerumus lagi ke dalam dunia kriminal.
Dalam kehidupan iman, menerakan stigma negatif pada orang lain adalah sikap yang tercela. Rasul Yakobus menyebutnya sebagai memandang muka, yaitu membedakan perlakuan terhadap orang lain karena status sosial atau penampilan lahiriahnya saja. Apa yang terlihat dengan mata jasmani dapat dengan mudah menipu karena manusia tidak dapat mengetahui isi hati dan pikiran orang lain. Pembedaan perlakuan terhadap si kaya dan si miskin adalah contoh yang sering terjadi, termasuk di dalam gereja.
Allah mau umat-Nya belajar memandang orang lain seperti ia memandang dirinya sendiri. Orang yang mampu mengasihi sesama seperti dirinya sendiri—termasuk menghargai orang lain tanpa melihat status sosial atau penampilan fisiknya—sedang berbuat baik (Yak. 2:8). Sikap seperti ini selayaknya dijalankan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana kita menerapkan iman selama ini? Apakah kita menyimak nasihat Rasul Yakobus ini manakala berinteraksi dengan sesama? Mari kita bersama-sama belajar menilai seseorang bukan dari penampilan luarnya, melainkan seperti cara Tuhan memandang diri kita.
Happybsunday guys...
JAYAPURA, 01 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.
Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id
TUHAN KAPAN SAYA MENINGGAL?
How are you today....?
Nats: ayat 5
Mazmur 39
Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 31-35
Pernahkah Anda mendengar seseorang berdoa pada hari ulang tahunnya supaya Tuhan memberitahukan kapan ia akan meninggal? Tentu akan menjadi doa ulang tahun yang paling menyeramkan sepanjang masa. Anda mungkin berkata bahwa tidak mungkin ada orang waras di dunia ini yang akan memanjatkan doa seperti itu.
Tunggu dulu. Bukankah Daud berdoa demikian? Sepintas, doanya seperti doa orang depresi. Tampaknya, Daud memang sedang diserang oleh musuhnya (ay. 2, 9). Ia tertekan dan menderita (ay. 3, 13). Akan tetapi, doanya ini bukan karena ia ingin cepat-cepat meninggal. Bila kita membaca dengan teliti, ia sebenarnya ingin agar Allah mengingatkan betapa terbatas dan rapuhnya hidup manusia itu (ay. 5). Mungkin saja sebelumnya ia merasa hebat dan mampu menghadapi masalahnya sendiri. Sekarang ia mengalami jalan buntu dan merasa tidak berdaya. Fakta akan kerentanan hidup manusia mengantar dirinya untuk kembali bergantung hanya kepada Allah (ay. 8). Doa Daud bukanlah doa pesimistik, melainkan doa untuk memperbaharui komitmennya dalam mengandalkan Allah. Justru, doanya berangkat dari iman yang besar bahwa hanya Allahlah yang dapat menjawab permasalahan hidupnya.
Apakah Anda sekarang sedang mengalami tantangan yang besar? Anda begitu tertekan dan menderita seperti Daud? Tidak berdaya dan putus asa? Kehidupan Anda ibarat mobil yang melaju kencang tanpa rem? Bila iya, inilah waktu yang tepat untuk Anda kembali bersandar dan berharap pada-Nya. Serahkan kendali hidupmu pada-Nya!
JAYAPURA, 30 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.
Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)





