Minggu, 17 Desember 2017

KERETA SALJU DAN LONCENG


How are you today...?
Mazmur 100:1-5
Nats: Ayat 3
Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun:
Filipi

Apa lagu Natal favorit Anda? Banyak orang senang menyanyikan lagu Jingle Bells, bahkan menjadikannya bagian dari ibadah perayaan Natal. Tahukah Anda bahwa lirik asli lagu ini bercerita tentang asyiknya naik kereta salju dengan lonceng yang berdentang sepanjang jalan? Sama sekali tak berkaitan dengan kelahiran Yesus. Memang dalam bahasa Indonesia liriknya diubah, tetapi, entah berapa banyak orang yang menyadarinya. Kerap sesudah menyanyikan lirik bahasa Indonesia, orang menyambungnya dengan lirik bahasa Inggris.

Bukan hanya saat Natal, mungkin saja kita memang jarang berpikir panjang tentang apa yang kita nyanyikan saat ibadah. Tidak demikian halnya dengan pemazmur. Ia menasihati jemaat yang datang beribadah: Ketahuilah siapa Tuhan yang kamu sembah dan siapa kamu di hadapan-Nya! (ayat 3). “Ketahuilah” di sini bukan sekadar mengetahui informasi tentang Tuhan, tetapi mengenal Dia dengan karib, sehingga ketika ada pernyataan-pernyataan yang keliru tentang Dia, kita dapat segera meluruskannya. Jemaat harus tahu jelas kepada siapa penyembahan mereka ditujukan. Penghormatan, rasa syukur, dan pujian sejati lahir dari pengenalan yang karib akan Pribadi dan karya Tuhan.

Tanpa pikir panjang, kita bisa memiliki cara pandang atau membuat pernyataan yang keliru tentang Tuhan. Mempersiapkan Natal di tempat kita masing-masing, mari pikirkan baik-baik acara-acara perayaan yang diadakan, serta lagu-lagu yang diperdengarkan. Apakah Pribadi dan karya Tuhan dinyatakan dengan benar di sana? Apakah melaluinya orang akan dibawa untuk mengakui kebesaran Tuhan, makin mengasihi dan menghormati-Nya?

Happy sunday guys...!
Salam dahsyat & semangat!
Ps. Gelphy Nartha
Papua, 17 Desember 2017

Silahkan download aplikasi di bawa ini.
Semoga menjadi berkat buat kita semua.

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.itant.gia.gelphynartha

https://gelphyministry.blogspot.co.id/2017/09/tidak-sadar-tuhan-hadir.html?m=1

Sabtu, 16 Desember 2017

JANGAN MENUNDA


How are you today...?
Amsal 12:24-28
Nats: Ayat 24
Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa.

Bacaan Alkitab Setahun:
Efesus

Salah satu penyakit saya semasa sekolah adalah suka menunda-nunda. Meski tak berniat untuk malas, kerap saya mengalir begitu saja menjalani hari, mengabaikan jadwal yang sebenarnya sudah saya buat. Ketika tugas harus dikumpul atau ujian tiba, saya terpaksa harus begadang. Heran juga kalau melihat bahwa semua itu sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat ketika saya benar-benar fokus. Jika saya sedikit lebih rajin, tentu saya tak perlu begadang dan yang saya kerjakan bisa lebih optimal.

Alkitab berulang kali memberi nasihat tentang kemalasan. Salah satunya yang kita baca hari ini. Kemalasan mengakibatkan kerja paksa. Kemalasan bisa membuat seseorang tidak menikmati, apalagi memetik manfaat dari apa yang dikerjakannya. Mungkin akhirnya ia merasa didikte orang lain yang lebih rajin (ayat 24). Mungkin akhirnya ia merasa sering gagal (ayat 27). Di sini penulis Amsal berbicara tentang sesuatu yang realistis untuk dicapai, tetapi tidak kesampaian karena usaha yang diberikan terlalu sedikit.

Kemalasan atau keengganan melakukan sesuatu pada waktunya bisa bersumber dari banyak hal. Mungkin sesuatu itu memang kurang kita sukai. Mungkin cara kita menata waktu perlu dibenahi. Temukan dan bereskanlah akar masalahnya. Setiap orang punya kecenderungan untuk bermalas-malasan. Kita lebih suka mengatur jadwal sesuka hati dari pada memperhatikan kepentingan orang lain. Kemalasan bisa merebut sukacita dan berkat dalam bekerja serta hidup bersama. Mari melatih diri untuk rajin dan persembahkan upaya terbaik kita untuk menghormati Tuhan.

Salam dahsyat & semangat!
Ps. Gelphy Nartha
Papua, 16 Desember 2017

Silahkan download aplikasi di bawa ini.
Semoga menjadi berkat buat kita semua.

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.itant.gia.gelphynartha

https://gelphyministry.blogspot.co.id/2017/09/tidak-sadar-tuhan-hadir.html?m=1

Jumat, 15 Desember 2017

SIKAP GBI MENGENAI HUBUNGAN GEREJA DAN ISRAEL


I. LATAR BELAKANG

Relasi antara Gereja dengan Israel merupakan relasi yang unik. Israel adalah umat perjanjian yang Allah pilih dalam PL (Kel. 19:5-6), sedangkan Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus dalam PB setelah Israel menolak Yesus sebagai Mesias (Mat. 16:18).  Walaupun Israel dan Gereja berbeda, namun misi yang Tuhan berikan kepadanya sebetulnya sama, yakni menjadi alat-Nya agar setiap suku bangsa di bumi mengenal Tuhan.  

Dalam konteks modern sekarang ini, yang kita miliki adalah dua agama yang berbeda, yaitu Yudaisme dan Kekristenan. Masing-masing memiliki sistem kepercayaannya sendiri yang sudah baku dan berbeda satu dengan yang lain. Dalam konteks Indonesia di mana ada sentimen anti-zionisme berkembang di masyarakat yang adalah mayoritas Islam, GBI memandang perlu mengkaji dan menetapkan serta menjelaskan sikap teologis terkait hubungan Gereja dan Israel.


II. SIKAP TEOLOGIS

a. Bagaimana hubungan antara Israel dan Gereja di masa kini? Ada tiga pandangan teologis yang berbeda tentang hubungan antara umat Israel dalam PL dengan Gereja dalam PB:

(1). Separation Theology (Teologi Pemisah).  
Israel berbeda dengan Gereja.  Perjanjian kepada bangsa Israel tidak dialihkan kepada gereja.  Gereja adalah suatu entitas rohani yang baru, yang tidak berkaitan dengan Israel.  

(2). Replacement Theology (Teologi Pengganti).  
Israel digantikan oleh Gereja.  Israel bukan umat pilihan Allah lagi karena telah menolak Kristus. Perjanjian yang diberikan kepada Abraham dan Israel kini dialihkan kepada Gereja, yang terdiri dari orang-orang non Yahudi.  Jadi orang Yahudi harus bertobat menjadi Kristen untuk mendapat janji Allah yang dulu diberikan kepada orang Israel, karena penggenapan janji kepada Israel itu dialami oleh gereja. Bangsa Israel sendiri ditinggalkan tanpa penebusan dan tanpa masa depan.  

(3). Remnant Theology (Teologi Sisa).  
Sisa Israel akan tetap mengalami penggenapan janji yang pernah diucapkan Allah, khususnya tentang tanah perjanjian dan raja kekal.  Gereja akan mengambil bagian dalam janji yang akan diterima oleh sisa Israel itu, yaitu milik Allah (Gal. 6:16).   Sisa Israel dan Gereja akan sama-sama menerima janji Allah di dalam Kristus (Ef. 2:11-15).  Pandangan ketiga ini tampaknya yang lebih Alkitabiah.

b. Alkitab tetap mengakui eksistensi Israel sebagai umat Allah tanpa sedikit pun mengindikasikan bahwa status Israel sebagai umat Allah sudah berhenti (Kis. 15:14). Ketidaksetiaan Israel tidak membatalkan kesetiaan dan pilihan Allah atas mereka (Hos. 14:5-8), sebab Allah tidak pernah mengingkari diri-Nya (Im. 26:40-45). 

Ini digambarkan dengan roti sulung yang menguduskan seluruh adonan, dan akar pohon zaitun yang menguduskan  cabang-cabangnya (Rom. 11:16-24). Istilah 'akar' merujuk pada ‘leluhur orang Israel yang setia’ (Abraham, Ishak, Yakub), yang imannya tidak lekang oleh zaman.  Jadi pada akhirnya Israel akan diselamatkan karena mereka bangsa pilihan, dan Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya (Rm. 11:28-30).

c. Gereja atau orang Kristen sebenarnya cuma tunas liar yang mendapat anugerah. Gereja tidak akan ada tanpa bangsa Israel. Ketidakpercayaan Israel membuka kesempatan bagi bangsa-bangsa lain untuk diselamatkan. Bangsa-bangsa lain tidak memiliki jasa kebaikan apa-apa dalam diri mereka sendiri. Hanya oleh iman saja mereka tercangkok pada pohon zaitun yang sejati (Rom. 11:17, 20). Sekalipun umat Kristen berbeda dari umat Israel, keduanya bersama-sama memainkan peranan penting dalam menggenapi rencana keselamatan Allah untuk dunia.

d. Fakta bahwa Allah tidak sayang mematahkan cabang asli seharusnya membuat gereja atau orang Kristen mawas diri terhadap hal-hal yang mengancam imannya. Bila cabang asli saja sampai dipatahkan, apalagi cangkokan tunas liar (Rom. 11:21). Maksudnya, supaya umat Kristen tidak mengandalkan diri sendiri dan harus lebih teguh berpegang pada kebaikan Allah. Umat Allah; Israel maupun bangsa-bangsa lain, hidup hanya oleh anugerah Karena itu.

e. Di masa depan Israel akan bersatu dengan bangsa-bangsa lain yang beriman kepada Kristus. Sebagaimana Tuhan adalah Esa, umat-Nya juga satu. Status orang Kristen digambarkan seperti tanaman cangkok pada pohon zaitun Israel. Satu pohon, bukan dua. Tidak berarti seolah-olah umat Kristen menggantikan posisi umat Israel dan juga tidak berarti keduanya identik. Bangsa Israel dan gereja yang terdiri dari bangsa-bangsa non Israel sama-sama harus percaya kepada Injil.  Keduanya berbeda, namun di dalam iman kepada Kristus mereka akan menjadi satu umat (Ef. 2:11-15).   

f. Mengenai hubungan antara Yudaisme dan Kekristenan dapat dijelaskan sebagai berikut:  Pada awalnya Kekristenan merupakan salah satu bagian dari Yudaisme. Dalam Kisah Para Rasul 24:5, Imam Besar Ananias menyebut Kekristenan sebagai ‘sekte’ Nasrani (Yun.: ?????????, baca: hairesis; arti harf.: sekolah, aliran, atau partai).

Namun kata ‘sekte’ pada saat itu bersifat netral, karena kata tersebut juga ditujukan kepada orang-orang Farisi dan Saduki. Paulus menyebut Kekristenan sebagai ‘Jalan’ (Kis. 24:14). ‘Jalan’ atau ‘Jalan Tuhan’ adalah nama awal yang digunakan oleh para pengikut Kristus untuk menyebut diri mereka sendiri. Istilah ‘Kristen’ kemudian pertama kali digunakan di Antiokhia oleh para pengikut Kristus sendiri (Kis. 11:26; Kis. 26:28; Rm. 16:7; 1 Kor. 9:5; 2 Kor. 12:2; 1 Pet. 4:16). Dalam tahap awalnya, Kekristenan adalah salah satu kelompok dalam Yudaisme, seperti halnya Farisi dan Saduki.

g. Secara teologis, Perjanjian Baru memahami umat Allah tidak lagi sebatas pada bangsa Israel, tetapi kepada siapapun yang percaya kepada Kristus. Amanat Agung (Mt. 28:18-20) menegaskannya.  Dalam Injil dicatat bahwa Yesus menunjukkan kepatuhan-kepatuhan kepada Taurat (Mk. 1:44; 6:56; 10:19; Mt. 9:20; 14:36; Lk. 8:44; 17:14). Namun di sisi lain, Yesus terlihat meninggalkan Taurat (bdk. Mt. 5:38 dst; Mk. 10:2-9; 7:14-23). Selain itu, relasi yang Yesus bangun dengan ‘orang-orang berdosa’ menunjukkan hal tersebut. Dengan membuka relasi dengan ‘orang-orang berdosa’ ini maka batasan-batasan teritorial dan etnis umat Allah menjadi hilang. 

Dalam kaitan ini, ketaatan terhadap Taurat pun memudar. Inilah yang membuat keterpisahan antara Kekristenan Perjanjian Baru dan Yudaisme. Paulus sendiri menentang penerapan Taurat yang membatasi anugerah Allah hanya pada bangsa Israel dan tertutup bagi bangsa-bangsa non-Yahudi. Paulus menginginkan Taurat dipenuhi oleh orang-orang percaya, yaitu Taurat yang dipahami dalam kaitan dengan iman, sebuah kepatuhan iman (Rm. 1:5; 3:31); iman yang dilakukan dalam kasih (Gal. 5:6), di mana bagi Paulus, iman adalah dasar dan sarana yang melaluinya manusia membangun relasi dengan Sang Ilahi, dan bukan dengan melakukan Taurat (Mt. 8:4);

h. Dalam perkembangan berikutnya, pemisahan Kekristenan dari Yudaisme makin terasa. Paulus memisahkan murid-muridnya dari orang-orang Yahudi dan mengajar mereka di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19:9). Tidak ada kejadian utama yang tiba-tiba memisahkan Kekristenan dari Yudaisme, melainkan pergeseran kontinu yang makin menjauhkan Kekristenan dari Yudaisme. Perang Yahudi antara tahun 66-74 yang menghancurkan segala sesuatu yang berbau otoritas keagamaan Yudaisme, termasuk Bait Suci dan kompleksnya, membuat posisi Yudaisme melemah. 

Kristen Yahudi memainkan peranan penting di dalam memisahkan Kekristenan dari Yudaisme. Kebijakan rabinik terhadap Kekristenan ditujukan khususnya kepada orang-orang Kristen Yahudi. Mereka berusaha dan berhasil memarginalisasikan orang-orang Kristen Yahudi dan mengeluarkan mereka dari Kelal Yisrael, ?????? ?????????? (komunitas Yahudi secara keseluruhan). Mereka menyingkirkan orang Kristen dari sinagoge-sinagoge dan mendorong orang-orang Yahudi lainnya untuk mengasingkan orang-orang Kristen Yahudi dari masyarakat.

i. Beberapa abad kemudian terjadi relasi buruk antara bangsa Yahudi dan umat Kristen, khususnya dipicu karena tindakan Nazi Jerman yang dipimpin oleh Hitler yang membantai sekitar 6 juta orang Yahudi di Eropa.  Holocaust adalah lembar hitam dalam sejarah. Sayangnya ada gereja di Jerman pada waktu itu yang menyetujui tindakan Hitler karena menganggap pembunuhan itu sebagai hukuman Allah bagi bangsa Yahudi yang telah menyalibkan Yesus.    

Padahal, bukankah Yesus di kayu salib telah mendoakan agar Bapa mengampuni dosa mereka? Dan jika penghukuman Allah tetap berlaku, setidaknya itu telah terjadi ketika bait Allah dan kota Yerusalem dihancurkan oleh Roma pada tahun 70 M, dan tidak perlu terjadi lagi di abad ke-20.  Holocoust itu adalah kejahatan kemanusiaan yang amat hebat yang muncul karena sikap anti-semitisme.  

Sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada orang Kristen yang memiliki sikap anti-semitisme, namun sebetulnya sikap anti-semitisme tidak diajarkan dalam Alkitab. Perjanjian Baru lebih mengarah kepada kritik logis-religius kepada Yudaisme yang dipraktekkan saat itu, dan bukan untuk membangkitkan sentimen anti-yudaisme.

j. Gereja dan Israel sebenarnya memiliki hubungan yang sifatnya kontinuitas, yaitu ada kesinambungan antara Israel dengan Gereja, antara Yudaisme dengan kekristenan. Perjanjian Abraham dengan Yahweh dipahami mencakup juga di dalamnya Gereja. Dengan demikian, Gereja tidaklah menggantikan Israel dan Kekristenan tidak menggantikan Yudaisme, tetapi keduanya adalah umat Allah. Yudaisme dan Kekristenan bertumbuh secara bersamaan, walaupun berbeda dengan sistem kepercayaan yang berbeda, sebagai umat yang menyembah Allah yang sama, yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub.  Pada akhirnya keduanya akan bersatu menjadi satu umat dalam iman kepada Yesus Kristus (Ef. 2:11-15).

k. Hubungan kontinuitas itu berlaku juga antara bangsa Yahudi yang dicatat dalam Alkitab dan bangsa Yahudi yang ada pada masa kini. Walaupun telah terserak ribuan tahun, bahkan ada yang menikah dengan orang non Yahudi, namun secara umum ada kesinambungan antara bangsa Yahudi yang kembali ke tanah asalnya dan tinggal di Israel pada masa kini, dengan bangsa Yahudi yang dicatat dalam Alkitab.  Ini dibuktikan dengan adanya: kesamaan bahasa, kesamaan budaya dan kesamaan agama.

l. Mengenai pandangan: Apakah orang non Yahudi harus mengikuti tradisi Yahudi (misalnya sunat), ataupun berbahasa Ibrani, jika mereka percaya kepada Yesus?  Jawabannya telah diputuskan dalam sidang para rasul di Yerusalem, yaitu tidak perlu! Kecuali empat hal yang dipesankan agar orang non Yahudi menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.  Alasan utamanya karena hukum itu dibacakan tiap Sabat di sinagoge, sehingga orang Kristen tidak menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi (Kis. 15:19-21).

m. Demikian pula halnya dengan hari raya yang dilakukan umat Yahudi di masa PL sebetulnya itu hanya merupakan gambaran yang sudah digenapi secara sempurna dalam diri Yesus Kristus (Kol. 2:16-17).  Misalnya: Pesah, Roti Tidak Beragi dan Buah Sulung digenapi dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus.  Hari Penuaian/Pentakosta menjadi hari Pencurahan Roh Kudus.  Hari Peniupan Sangkakala, Pendamaian (Yom Kippur), Pondok Daun akan digenapi menjadi hari pengangkatan gereja, kedatangan Kristus kembali, dan berdirinya kerajaan seribu tahun damai.  

Dengan demikian umat Kristen tidak perlu lagi mengikuti hari raya Israel, cukup percaya kepada Kristus yang adalah penggenapannya. Jadi merayakan perayaan Alkitabiah bukanlah sarana bagi orang Yahudi untuk menjadi Yahudi.  Perayaan itu tidak boleh dilakukan sebagai sebuah yang mengikat dan legalistik (Gal. 4:9-11). Tentu saja mengadakan hari raya seperti Paskah, Pentakosta yang telah mendapat makna baru secara Kristen dengan pemahaman yang benar yaitu untuk menyanjung Kristus dan menghargai karya-Nya tidak masalah bahkan perlu dilakukan.  


III. IMPLIKASI PELAYANAN PASTORAL

1. GBI tidak menerima pemahaman diskontinuitas atau keterputusan antara Israel dengan Gereja, Yudaisme dan Kekristenan. Pemahaman akan diskontinuitas ini dapat membangkitkan Anti-semitisme seperti telah terjadi di masa lalu yang berujung pada genosida Yahudi. GBI meyakini adanya kontinuitas, yaitu bahwa ada kesinambungan antara Israel dengan Gereja, Yudaisme dan Kekristenan dalam hal bahwa keduanya adalah umat Allah tetapi dengan dua sistem kepercayaan yang berbeda dan terpisah, yang akhirnya akan menjadi satu umat yang percaya kepada Kristus.

2. GBI menolak sikap-sikap anti-Semitisme atau anti-Yudaisme maupun segala bentuk rasisme lainnya. Oleh karenanya, GBI menolak semua bentuk pembantaian massal atau pembantaian ras oleh siapapun dan atas siapapun.

3. Terkait dengan penafsiran Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, maka penafsiran yang dilakukan oleh GBI adalah penafsiran atau dalam terang perspektif Kristiani, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Perjanjian Baru. GBI menafsir Perjanjian Lama sebagaimana Yesus, dan kemudian para rasul, menafsirkan Perjanjian Lama.

4. Secara politis, tidak ada hubungan secara khusus antara Gereja dengan Negara Israel modern. Hubungan politik yang ada adalah yang terbangun antara Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Negara Israel. Dengan demikian, GBI melihat permasalahan Israel dengan Palestina dalam bingkai hubungan politik internasional dan bukan agama (atau Gereja).

5. GBI menolak segala bentuk kekerasan antar suku, bangsa, ras maupun agama yang dilakukan oleh siapapun, termasuk jika dilakukan sekalipun oleh negara-negara Kristen atau Barat maupun oleh negara Israel modern.

6. Israel adalah tanah perjanjian bagi orang-orang Yahudi tetapi bukan tanah perjanjian bagi orang-orang Kristen. Oleh karena itu GBI memandang Israel modern sekarang adalah sebagai tempat wisata/ ziarah rohani karena memiliki tempat-tempat yang tercatat dalam Alkitab. Dengan demikian bagi GBI, wisata/ ziarah rohani tidak memiliki unsur religi-magis.

7. GBI berpandangan bahwa perayaan-perayaan keagamaan dan tahun-tahun Yudaisme, tidak memiliki keterikatan dengan teologia GBI.  GBI mengikuti Perjanjian Baru dalam memaknai ulang sebagian tradisi Yudaisme seperti Paskah dan Pentakosta.


IV. KETERKAITAN DENGAN KEPEJABATAN GBI. 
GBI melarang seluruh pejabatnya untuk mengajarkan secara sistematis keterikatan dengan tradisi-tradisi Yudaisme seperti yang disebutkan di atas, di seluruh gereja GBI. Bila hal ini terjadi maka BPH melakukan pembinaan dan disiplin sesuai dengan tata dasar GBI.Jakarta, 17 Oktober 2017,Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham,Ketua Bidang Theologia dan Pendidikan BPH GBI    dan Pdt. Hengky So, M.Th, Ketua Departemen Theologia BPH GBI.

TIM PERUMUS:
Pdt. Dr. Japarlin Marbun; Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham; Pdt. Hengky So, M.Th; Pdt. Dr. Purim Marbun; Pdt. Thomas Bimo, M.Th; Pdt. Dr. Jonatan Trisna; Pdt. Dr. Junifrius Gultom; Pdt. Dr. Frans Pantan; Pdt. Dr. Gernaida Krisna; Pdt. Dr. Asigor Sitanggang; Pdt. Dr. Abraham Lalamentik; Pdm. Christianto Silitonga, M.A.;Pdt. Joko Prihanto, M.Th; Pdt. Dr. Albert Leonarts Jantje Haans; Pdp. Juliana Hindradjat, Psik, M.Th; Pdm. Hiruniko R. Siregar, M.Th.

Penulis: Pram (14/12/2017)
Sumber : http://www.beritabethel.com/artikel/detail/1794

HORMATI TUHAN


How are you today...?
Amsal 14:1-9
Nats: Ayat 2
Siapa berjalan dengan jujur, takut akan Tuhan, tetapi orang yang sesat jalannya menghina Dia.

Bacaan Alkitab Setahun:
Kolose; Filemon

Alkisah seorang raja mencari pengawas kebun kerajaan dengan cara yang unik. Tiap pelamar diberikan sekantong biji untuk ditanam selama waktu tertentu. Seorang pemudi ikut mendaftar dengan semangat. Biji dari raja ditanamnya hati-hati, disiramnya tiap hari. Namun, betapa sedih hatinya melihat biji itu tak kunjung tumbuh. Ketika tiba batas waktu untuk melapor ke istana, ia melihat orang-orang membawa tanaman yang indah-indah. Setengah menangis ia mohon ampun pada raja, karena biji itu tidak mau tumbuh sekalipun ia telah merawatnya tiap hari. Raja menepuk pundaknya dan berkata, “Semua biji yang kuberikan sebenarnya sudah dipanggang, jadi tidak mungkin tumbuh. Entah dari mana tanaman-tanaman yang mereka bawa. Terima kasih sudah membawa kejujuranmu. Hari ini juga kamu resmi menjadi pengawas kebun kerajaanku.”

Kejujuran tak hanya menunjukkan ketulusan hati, tetapi juga sikap yang menghormati orang lain. Karena hormat, kita tidak mau menipu orang itu. Lebih dari menghormati sesama, Amsal berkata bahwa sikap yang jujur menghormati Tuhan sendiri (ayat 2). Ketika seseorang berdusta, ia sebenarnya sedang menghina Tuhan Yang Mahatahu. Memang bersikap jujur di tengah dunia yang sarat ketidakjujuran bisa dipandang sebagai suatu kebodohan di mata manusia. Namun tidak di mata Tuhan. Orang yang jujur justru menunjukkan kesetiaan dan kebaikan di hadapan-Nya (ayat 5, 9).

Ketika diperhadapkan pada pilihan untuk jujur atau tidak, ingatlah bahwa kita tidak saja sedang berurusan dengan manusia, tetapi juga dengan Tuhan. Manusia tidak serbatahu, tetapi Tuhan tahu apakah kita sedang menghormati-Nya atau tidak.

Salam dahsyat & semangat!
Ps. Gelphy Nartha
Papua, 15 Desember 2017

Silahkan download aplikasi di bawa ini.
Semoga menjadi berkat buat kita semua.

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.itant.gia.gelphynartha

https://gelphyministry.blogspot.co.id/2017/09/tidak-sadar-tuhan-hadir.html?m=1

Kamis, 14 Desember 2017

KEINGINAN DUNIA


How are you today...?
1 Yohanes 2:15-17
Nats: Ayat 15,17
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya ... dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para Rasul 27-28

Seorang duta besar diutus ke sebuah negara yang sangat berbeda dari negara asalnya. Berbulan-bulan lamanya ia harus beradaptasi dengan bahasa dan budaya di sana. Namun, bayangkanlah jika ia menjadi begitu terpikat dengan nilai-nilai dan tradisi negara tersebut. Ia mulai menganggap negara itu sebagai negaranya sendiri. Apakah ia masih dapat menjalankan tugasnya sebagai duta besar sebagaimana mestinya? Bisa jadi ia tidak lagi objektif dan tak lagi berpihak pada kebijakan negara asalnya.

Rasul Yohanes mengingatkan bahaya yang sama bisa terjadi pada orang-orang percaya. Karena tinggal di dalam dunia, hati kita bisa begitu melekat pada berbagai hal di dalamnya (ayat 15). Di sini rasul Yohanes tidak sedang menuding suatu gaya hidup tertentu, penampilan tertentu, atau kepemilikan harta dalam jumlah tertentu. Ia sedang berbicara tentang kondisi hati saat umat Tuhan menanggapi apa yang ada di sekitarnya. Kondisi hati yang menganggap bahwa apa yang ditawarkan dunia jauh lebih baik daripada apa yang ditawarkan Tuhan. Anggapan yang keliru! Dunia yang hanya sekelumit dari ciptaan Tuhan, tidak akan bertahan. Apa yang disediakan Sang Pencipta bagi masa depan anak-anak-Nya jelas jauh lebih baik dan terjamin. Dunia ini bukanlah rumah kita.

Tidak ada salahnya menikmati hal-hal baik yang Tuhan sediakan selama kita hidup di dunia. Namun, entah itu musik, film, teknologi, pakaian, jabatan, atau yang lain, ketika itu mulai menjadi tuntutan dan kebahagiaan kita bergantung pada pemuasannya, waspadalah! Kita sedang mengasihi dunia lebih dari Tuhan, dan jelas akan kehilangan hal-hal terbaik dari-Nya.

Salam dahsyat & semangat!
Ps. Gelphy Nartha
Papua, 14 Desember 2017

Silahkan download aplikasi di bawa ini.
Semoga menjadi berkat buat kita semua.

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.itant.gia.gelphynartha

https://gelphyministry.blogspot.co.id/2017/09/tidak-sadar-tuhan-hadir.html?m=1

Rabu, 13 Desember 2017

ORANG FASIK


How are you today...?
Mazmur 10
Nats: Ayat 6
[Orang fasik] berkata dalam hatinya: Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun temurun.

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para Rasul 24-26

Siapa sih orang fasik itu?
Apakah orang fasik sama dengan orang yang tidak percaya Tuhan? Apakah orang fasik identik dengan orang jahat? Apakah ada orang kristiani yang bisa disebut fasik?

Pada dasarnya orang fasik adalah orang yang congkak, merasa ia tahu apa yang baik (ayat 2-3, 6). Hukum-hukum Allah tidak relevan baginya (ayat 5). Ia melakukan segala sesuatu sesuai dorongan hatinya, tanpa berpikir tentang apa yang menjadi kehendak Allah, apa yang memuliakan Allah, bagaimana ia harus bergantung kepada Allah. Ia bukan orang yang ateis, tetapi ia hidup seolah-olah Allah tidak ada, tidak melihat, dan tidak akan menuntut pertanggungjawaban atas hidupnya (ayat 4, 11). Dalam bagian-bagian lain di Alkitab kita bisa melihat bahwa para pemimpin rohani pun bisa terjebak dalam dosa kefasikan (Yeremia 23:11).

Seberapa sering kita berpikir tentang Allah dan kehendak-Nya dalam menjalani hidup? Kita bisa beribadah beberapa jam lalu melanjutkan hidup seolah-olah Dia tidak melihat. Kita bisa melakukan banyak hal yang baik tanpa memikirkan Allah sama sekali. Kita jarang berpikir tentang tanggung jawab kita kepada Pencipta kita dalam bekerja. Kita merasa cukup baik karena tidak melakukan dosa-dosa besar. Kita tidak tertarik membangun relasi yang intim dengan Allah. Dalam derajat tertentu, kita pun bisa berlaku fasik sehingga pola pikir dan perilaku kita tidak banyak berbeda dengan orang-orang yang belum mengenal Allah. Kefasikan memberi ruang bagi dosa-dosa lain untuk bertumbuh. Waspadalah!

Salam dahsyat & semangat!
Ps. Gelphy Nartha
Papua, 13 Desember 2017

Silahkan download aplikasi di bawa ini.
Semoga menjadi berkat buat kita semua.

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.itant.gia.gelphynartha

https://gelphyministry.blogspot.co.id/2017/09/tidak-sadar-tuhan-hadir.html?m=1

Selasa, 12 Desember 2017

BERITAKANLAH RAHMAT-NYA


How are you today...?
Nats: Ayat 1
Yesaya 61

... Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para Rasul 20-23

Hanya pemberian kecil dan doa singkat, tetapi itu membuat sepasang mata di depan saya memerah “Baru kali ini ada yang begitu peduli sama saya,” ujarnya lirih. Ia mengaku jarang sekali berdoa. “Mungkin nantilah saya mikir tentang Allah, sekarang saya hanya mau cari uang untuk anak saya.” Meski tak terucap gamblang, sikapnya menunjukkan siapa Allah baginya. Pribadi yang jauh di atas sana dan tak cukup peduli dengan orang lemah seperti dirinya.

Namun, kita tahu bahwa Allah peduli. Yesaya dan nabi-nabi lainnya diutus untuk memberitakan rahmat Allah kepada yang lemah dan miskin. Allah sendiri datang sebagai manusia di dalam Yesus Kristus untuk menyentuh manusia secara fisik. Dia berkeliling untuk menghibur dan memulihkan. Dia ikut merasakan bahkan menanggung penderitaan sampai ke atas salib (bandingkan ayat 1-2 dengan Lukas 4:18-21). Yesus datang untuk mewartakan betapa Allah memperhatikan dan berkehendak membebaskan manusia dari kebutaan fisik dan hati, dari penindasan dan ketidakadilan. Tidakkah para pengikut Yesus juga dipanggil untuk mewartakan kabar baik yang sama?

Hari ini, enam benua bersehati dalam Hari Doa Sedunia untuk Orang-Orang yang Miskin dan Sengsara (Global Day of Prayer for the Poor and Suffering). Mari ikut menggerakkan keluarga dan komunitas kita untuk berseru kepada Allah bagi jutaan penduduk dunia yang membutuhkan kesembuhan, keadilan, keamanan, air bersih, tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan. Mohon Allah membangkitkan dan memperlengkapi orang-orang kristiani, termasuk diri kita, untuk mewartakan tahun rahmat Tuhan kepada mereka yang membutuhkan.

Salam dahsyat & semangat!
Ps. Gelphy Nartha
Papua, 12 Desember 2017

Silahkan download aplikasi di bawa ini.
Semoga menjadi berkat buat kita semua.

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.itant.gia.gelphynartha

https://gelphyministry.blogspot.co.id/2017/09/tidak-sadar-tuhan-hadir.html?m=1