Rabu, 06 Februari 2019

KESETIAAN TUHAN ALLAH


How are you today? 
Firman Tuhan : 
Roma 3:1-8 

Tidak adilkah Allah—aku berkata sebagai manusia—jika Ia menampakkan murka-Nya? Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia? (Roma 3:5-6) 

Bacaan Alkitab Setahun: 
Imamat 14-15 

Seorang anak SD sengaja tidak mengerjakan tugas dari gurunya. Ia hanya tersenyum melihat teman-temannya berusaha keras mengerjakan tugas itu. Ia merasa yakin sang guru tidak akan memarahinya. Kenapa? Ternyata guru itu ayahnya sendiri. Namun, perkiraannya meleset. Sang guru tetap menghukumnya. 

Meskipun berdosa, orang Yahudi tetap memiliki kelebihan. Bukan pada diri mereka, melainkan pada panggilan Allah yang memercayakan firman-Nya kepada mereka supaya mereka bisa menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (ay. 2). Lalu, apa jadinya jika bangsa pilihan Allah itu gagal dalam melakukan kehendak Allah? Apakah berpengaruh terhadap kasih dan kesetiaan Allah? Ternyata tidak (ay. 3-4). Kegagalan manusia semakin menegaskan kesetiaan Allah. Semakin besar kesalahan manusia, semakin besar pula pengampunan yang Dia berikan. Allah memang setia. Bahkan kesetiaan-Nya mengatasi keberdosaan kita. Tetapi, bukan berarti manusia bisa berlaku seenaknya, bahkan menyepelekan kasih Allah dan hidup cemar (ay. 8).

Allah bertindak adil, maka Dia pasti menghukum manusia yang berdosa. Tetapi, jika Allah menghukum manusia, di manakah letak kasih-Nya? Karena itulah, Allah mengutus Putra Tunggal-Nya, yaitu Yesus Kristus, untuk menggantikan manusia menerima hukuman. Yesus adalah kurban bagi dosa kita. Yesus adalah wujud keadilan Allah yang menghukum dosa dan menyatakan kasih. Itulah mengapa keselamatan kita hanya ada di dalam Yesus Kristus. Di luar Dia, kita harus menanggung hukuman kita sendiri.

Salam dahsyat dan tetap semangat...
Ps. GELPHY NARTHA S.
Jayapura, 06 Februari 2019

Jika Anda diberkati dengan renungan ini Silahkan berikan comment Anda dan bagikan juga kepada saudara seiman yang lainnya. Untuk mendapat renungan rutin, bahan kotbah saya dan ilustrasi, Anda bisa mendownload aplikasi saya caranya; Buka Google Play Store di Smart Phone atau Android Anda. Ketik Gelphy Nartha di searching lalu download aplikasinya.
God Bless...!

https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Selasa, 05 Februari 2019

YANG BEGINI BELUM PERNAH KITA LIHAT


How are you today? 
Firman Tuhan : 
Markus 2:1-12 

Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, "Yang begini belum pernah kita lihat." (Markus 2:12) 

Bacaan Alkitab Setahun: 
Imamat 11-13 

Bob Sadino adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Masa kejayaannya dimulai ketika seorang teman menyarankannya memelihara dan berbisnis telur ayam negeri. Ketika itu, ayam kampung masih mendominasi pasar. Ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan ayam negeri dan telurnya ke Indonesia. Selain itu, ia juga orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di negeri ini.

Suatu ketika, Yesus tengah berkhotbah di sebuah rumah. Sementara Dia menyampaikan firman, ada empat orang terpaksa menurunkan seseorang yang lumpuh dari atap rumah tepat di atas Yesus. Rumah itu sudah penuh sesak. Lalu Yesus berkata kepada orang lumpuh itu, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun segera bangkit. Melihat hal itu, orang-orang takjub dan berkata, “Yang begini belum pernah kita lihat.” Keseluruhan kejadian itu--menggotong orang sakit melalui atap dan penyembuhan orang sakit melalui pengampunan dosa--belum pernah dilihat orang-orang itu. Para ahli Taurat menganggap Yesus menghujat Allah, namun orang banyak merasa kagum dan memuliakan Allah.

Tuhan Yesus telah membuka jalan yang baru kepada Allah dan menyediakan pengampunan dosa bagi kita. Dalam mengungkapkan iman kita kepada-Nya, kita memiliki peluang untuk mencoba hal-hal yang baru, tidak takut melangkah, dan menjadi pionir. Meskipun mungkin gagal, Tuhan menghargai langkah iman kita. Bisa juga, langkah iman kita membuat orang memuliakan Tuhan.

Salam dahsyat dan tetap semangat...
Ps. GELPHY NARTHA S.
Jayapura, 05 Februari 2019

Jika Anda diberkati dengan renungan ini Silahkan berikan comment Anda dan bagikan juga kepada saudara seiman yang lainnya.

Untuk mendapat renungan rutin, bahan kotbah saya dan ilustrasi, Anda bisa mendownload aplikasi saya gratis, caranya; Buka Google Play Store di Smart Phone atau Android Anda. Ketik Gelphy Nartha di searching lalu download aplikasinya.

God Bless...! https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Senin, 04 Februari 2019

RAJA KOK INFANTILE


How are you today?
Firman Tuhan : 
1 Raja-raja 21:1-19

Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati... Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. (1 Raja-raja 21:4) 

Bacaan Alkitab Setahun: 
Imamat 9-10 

Infantile adalah istilah Bahasa Prancis yang artinya adalah kenakan-kanakan. Infantile terjadi pada orang dewasa yang bersikap seperti anak kecil, yang apabila kemauannya tidak dituruti, akan ngambek, marah, tidak mau makan, dan sebagainya.

Sikap infantile ini ditunjukkan oleh seorang raja yang berkuasa di Israel, yaitu Ahab. Kala itu ia mengingini kebun anggur Nabot yang terbentang di dekat istananya. Padahal, sebagai raja, ia tentu dikelilingi kekayaan berlimpah. Sementara itu, Nabot menolak untuk menjualnya karena kebun anggur itu merupakan pusaka nenek moyangnya (ay. 3). Sifat kekanak-kanakan Ahab muncul. Ia kecewa, marah, ngambek dan tidak mau makan. Istrinya, Izebel, dengan segera mengambil tindakan. Ia mengupayakan pembunuhan atas Nabot dan merampas kebun anggurnya. Dengan senang Ahab bangun untuk mengambil kebun itu (ay. 16). Namun demikian, atas tindakan mereka berdua, ada konsekuensi yang harus mereka terima. Hukuman Tuhan yang dinyatakan melalui nabi Elia tidak main-main dan mengerikan: “Beginilah firman Tuhan: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu" (ay. 19).

Sifat infantile ini sebenarnya ada dalam diri semua orang dewasa, entah ia orang berpangkat dan terkenal, entah ia orang biasa. Kita perlu waspada, terlebih dengan kedudukan yang memungkinkan kita bertindak sewenang-wenang. Jangan sampai muncul sikap kekanak-kanakan. Kiranya Tuhan mendewasakan kita, dari hari ke hari.

Salam dahsyat dan tetap semangat... Ps. GELPHY NARTHA S. Jayapura, 04 Februari 2019 Silahkan download aplikasi saya di google Play Store pada android atau Handpone Anda dengan mengetik Gelphy Nartha di kotak pencarian/search.

https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Minggu, 03 Februari 2019

RENEWED_BAGIAN 1


Shalom!
ini adalah bahan kotbah Ps. Gelphy Nartha di GBI. ROCK CENTER Jayapura pada hari Minggu,, 03 Februari 2019.


Semoga menjadi berkat bagi kita semua.

Jika Anda diberkati dengan materi ini Silahkan berikan sharing Anda dan bagikan juga kepada saudara seiman yang lainnya.

Untuk penguraian lengkapnya Anda bisa mendownload aplikasi saya caranya; Buka Google Play Store di Smart Phone atau Android Anda. Ketika Gelphy Nartha di searching lalu download aplikasi saya.

God Bless...!













PERINTAH SALING MENGASIHI


How are you today? 
Firman Tuhan :
Yohanes 15:9-17

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. (Yohanes 15:12) 

Bacaan Alkitab Setahun:
Imamat 7-8 

Suku Waodani (Auca) di Ekuador terkenal pemarah dan suka membalas dendam. Mereka bisa saling membunuh dalam satu keluarga. Pada 1956, lima misionaris memberitakan Injil ke sana. Mereka disalahpahami dan mati ditikam tombak. Namun, keluarga para misionaris ini tidak menyerah. Mereka datang ke Ekuador dan melanjutkan pelayanan di sana. Salah satunya adalah Rachel Saint--kakak Nate Saint, seorang korban. Lewat pelayanan Rachel, suku Waodani mulai terbuka terhadap Injil.

Mincaye adalah orang Waodani yang membunuh Nate Saint. Kepada Rachel, ia menyampaikan pengakuan. Ketika melihat para misionaris datang dengan membawa senapan, ia berpikir akan dibunuh. Maka, ia membunuh lebih dulu. Rachel menjelaskan bahwa para misionaris itu membawa senapan hanya untuk menakut-nakuti. Tapi, Rachel menjamin bahwa mereka sudah berjanji pada Tuhan untuk tidak menembak suku Waodani. Bahkan, mereka rela mati buat suku Waodani--jadi tak mungkin mereka akan membunuh. Hal ini menggetarkan hati Mincaye, dan membuatnya menerima Kristus!

Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi. Pertanyaannya, seberapa besar kita harus mengasihi? Perhatikan standar ini: sebesar Kristus mengasihi kita (ay. 12). Ya, sebesar kerelaan-Nya melepas segala kenyamanan, mengurbankan raga, dan menyerahkan nyawa bagi kita (ay. 13). Adakah kita kadang merasa sudah cukup berkurban, lalu berhenti mengasihi? Adakah kita rela melepas kenyamanan demi mengasihi sesama? Adakah kasih kita menggetarkan hati sesama, dan membawanya kepada Kristus?

Salam dahsyat dan tetap semangat...
Ps. GELPHY NARTHA S.
Jayapura, 03 Februari 2019

Silahkan download aplikasi saya di google Play Store pada android atau Handpone Anda dengan mengetik Gelphy Nartha di kotak pencarian/search.

https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Sabtu, 02 Februari 2019

JALAN TUHAN TAK PERNAH SALAH


How are you today?
Firman Tuhan : 
Keluaran 14:1-14 

Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu. (Keluaran 14:13) 

Bacaan Alkitab Setahun:
Imamat 4-6 

Ada yang berkata ketika kita mengikuti Tuhan, jalan kita pasti lurus dan tidak menemui hambatan. Nyatanya, yang terjadi sering kali justru sebaliknya. Perjalanan kita malah terasa rumit. Kita tidak sabar jika harus menunggu dan berharap dan tetap percaya di tengah persoalan pelik yang membelit kita. Mengapa jalan Tuhan sering tidak seperti yang kita inginkan?

Melalui pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa “tuntunan-Nya tidak pernah salah”. Sekalipun Israel dituntun Tuhan menuju Laut Teberau yang, bagi mereka, “bukan jalan keluar”, tapi itulah jalan yang Tuhan kehendaki. “Mereka harus menyeberanginya!” kata Tuhan. Bayangkan, apa yang ada dalam benak mereka ketika melihat laut itu di depan mata, sedangkan tentara Mesir mengejar di belakang mereka? Mereka sangat ketakutan dan mempersalahkan Musa (ay. 10-12). Perlu waktu sebelum mereka sadar bahwa Tuhan ingin menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya, yang lebih dahsyat daripada kemegahan dan kekuatan tentara Mesir (ay. 18). Ya, jalan Tuhan itu indah pada waktu-Nya.

Untuk menguji hati kita, kadang Tuhan menghadirkan tantangan di dalam perjalanan hidup kita. Itulah salah satu maksud Tuhan membawa umat-Nya hingga Laut Teberau dan terdesak! Pada saat badai masalah menghadang kita, apakah kita tetap percaya bahwa Dia selalu menyertai hidup kita? Kita mungkin tidak memahami jalan-Nya, tetapi kita dapat percaya bahwa jalan-jalan-Nya tidak pernah salah.

Salam dahsyat dan tetap semangat...
Ps. GELPHY NARTHA S.
Jayapura, 02 Februari 2019

Silahkan download aplikasi saya di google Play Store pada android atau Handpone Anda dengan mengetik Gelphy Nartha di kotak pencarian/search.

https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Jumat, 01 Februari 2019

KUALIFIKASI PELAYAN


How are you today? 
Firman Tuhan : 
Kisah Pr. Rasul 6:1-7

Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu. (Kisah Pr. Rasul 6:3)

Bacaan Alkitab Setahun: 
Imamat 1-3 

Sebagian orang beranggapan pelayanan tertentu lebih penting dari yang lain. Pemimpin pujian, pendoa syafaat, dan pengkhotbah dianggap sangat penting sehingga harus ada persiapan khusus sebelum melayani. Sebaliknya, penerima tamu dan pengumpul persembahan terkesan kurang penting, dapat dilakukan oleh siapa saja sekalipun tanpa persiapan khusus. Benarkah demikian?

Jemaat mula-mula mengalami persoalan karena kurangnya tenaga pelayan. Seiring dengan semakin banyaknya jumlah orang percaya, timbul sungut-sungut di antara orang Yahudi berbahasa Yunani. Pelayanan sosial sehari-hari terhadap janda-janda mereka terabaikan (ay. 1). Lalu para rasul pun menangani pelayanan meja sehingga tugas utama mereka untuk memberitakan firman dan berdoa terbengkalai (ay. 2, 4). Sadar akan hal itu, para rasul meminta agar jemaat memilih tujuh orang pelayan tambahan untuk “melayani meja”. Tugas mereka ‘hanya’ mendistribusikan makanan harian kepada jemaat yang kurang mampu. Tugas yang ringan, mudah, dan dapat dikerjakan semua orang, pikir beberapa orang.

Tetapi, tidak bagi para rasul. Mereka meminta orang “yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat”. Ya, para pelayan Tuhan adalah mereka yang telah menunjukkan buah imannya dan sungguh-sungguh mengenal Allah. Allah tidak mengistimewakan pelayanan yang satu dan mengabaikan yang lain. Pelayanan sekecil apa pun tidak boleh kita lakukan dengan asal-asalan karena kita melayani Allah yang Maha Agung, suci, dan sempurna, namun penuh kasih.

Salam dahsyat dan tetap semangat...
Ps. GELPHY NARTHA S.
Jayapura, 01 Februari 2019

Silahkan download aplikasi saya di google Play Store pada android atau Handpone Anda dengan mengetik Gelphy Nartha di kotak pencarian/search.

https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id