Sabtu, 07 Juli 2018

MENGAMPUNI


How are you today....?
Nats: ayat 30
Matius 18:21-35

Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi utangnya. (Matius 18:30)

Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 72-77

Pada zaman itu, orang yang tidak mampu membayar utang dapat menanggung akibat yang buruk. Orang yang meminjaminya uang dapat menangkapnya dan memaksa dia bekerja untuk membayar utang itu sampai lunas. Orang yang berutang itu juga dapat dipenjarakan atau keluarganya dijual sebagai budak untuk membantu membayar utangnya.

Orang yang berutang sepuluh ribu talenta (senilai 60 juta dinar atau sekitar Rp  3 triliun) itu juga harus siap menerima hukuman karena tidak mampu melunasi utang. Orang itu memohon-mohon, agar raja mau bersabar kepadanya. Raja tergerak hatinya. Bukan hanya menunda pelunasan utang itu, ia bahkan membebaskan dan menghapuskan seluruh utang itu (ay. 27). Tetapi, orang itu kemudian menunjukkan sikap bengis kepada kawan yang berutang “hanya seratus dinar (senilai sekitar Rp 5 juta)” kepadanya. Sekalipun kawan itu memohon kesabarannya, ia menolak dan menjebloskan orang itu ke dalam penjara sampai mampu melunasi utang (ay. 30). Tragis, bukan?

Jika kita mengasihi seseorang seperti Kristus mengasihi kita, kita akan bersedia mengampuninya. Jika kita sudah mengalami kasih karunia Allah, kita akan meneruskannya kepada orang lain. Dengan menyadari bahwa Yesus telah mengampuni utang dosa kita sepenuhnya, kita memiliki motivasi yang kuat untuk mengampuni kesalahan dan pelanggaran orang lain. Bila kita tidak mengampuni orang lain, berarti kita menempatkan diri di atas dan di luar hukum kasih Kristus. Jadi, bersediakah kita mengampuni siapa saja yang telah melukai hati kita?

JAYAPURA, 07 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id

Jumat, 06 Juli 2018

MENGASIHI DENGAN PERBUATAN


How are you today....?
Nats: ayat 18
1 Yohanes 3:11-18

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 67-71

Kasih adalah pengikat hubungan. Hubungan yang sehat berlangsung timbal balik, bukan hanya satu arah. Kasih dalam hubungan terungkap melalui cara kita memperlakukan orang yang kita kasihi. Sayangnya, dalam hal mengasihi, orang kerap berhenti pada mengucapkan atau membicarakannya. Orang kerap lalai bahwa kasih perlu ditunjukkan dalam bentuk perhatian dan perbuatan.

Pada suratnya yang pertama, Rasul Yohanes berbicara tentang kasih. Ia mendorong kita agar mengasihi dengan perbuatan, bukan dengan perkataan. Kata-kata atau ungkapan dari bibir kita itu memang penting, tetapi menjadi tidak bermakna jika tidak terwujud dalam perbuatan. Perbuatan ini pun, lanjut Yohanes, bergerak dalam koridor kebenaran. Artinya, kita menyadari bahwa kasih itu bukan bersumber dari diri kita sendiri. Kasih itu bersumber dari Allah, yang sudah terlebih dulu mengasihi kita melalui penebusan Kristus (ay. 16), dan dengan demikian memampukan kita untuk mengasihi.

Bagaimana kita menerapkan kasih itu? Jika kita memiliki sesuatu dan melihat saudara kita kekurangan, kita harus segera membantunya (ay. 17). Tidak cukup kita hanya berkata-kata pada seseorang, tanpa benar-benar mencari tahu keadaan atau masalah yang sedang ia hadapi. Akibatnya, kita tidak dapat memberikan bantuan atau dorongan semangat yang tepat. Atau, kita tahu ada teman yang sedang bermasalah, namun kita diam saja, padahal sebenarnya kita dapat membantu. Sebuah perhatian kecil yang tulus, bisa jadi akan sangat bermakna baginya

JAYAPURA, 06 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id  

Kamis, 05 Juli 2018

PERCAYA WALAU TIDAK MELIHAT



How are you today....?
Nats: ayat 25
Yohanes 20:24-29

Tetapi Tomas berkata kepada mereka, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (Yohanes 20:25)

Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 60-66

No pic hoax! Komentar ini lumayan populer di antara pengguna jejaring sosial, khususnya Twitter. Jika ada orang yang mengabarkan suatu hal yang unik, mengejutkan, atau mengherankan, namun tanpa melampirkan foto sebagai pendukung, biasanya ada orang lain yang menimpali dengan komentar itu. Tanpa bukti berupa foto, kabar itu dianggap bohong.

Tomas bersikap seperti itu ketika murid-murid lain menceritakan perjumpaan mereka dengan Tuhan yang telah bangkit. Ia ingin melihat sendiri dan menyentuh sendiri bekas luka pada tubuh Tuhan sebelum percaya akan kebangkitan-Nya.

Kita kerap merendahkan iman Tomas itu, menganggapnya sebagai iman kelas dua. Menariknya, para murid lain tidak berkomentar apa-apa terhadap keraguan Tomas. Mereka tetap menerimanya. Buktinya, Tomas bersama dengan mereka saat Yesus menampakkan diri lagi. Tuhan Yesus juga tidak mencela sikap Tomas, melainkan langsung menyodorkan bukti yang Tomas harapkan. Berhadapan dengan bukti itu, Tomas mengucapkan pengakuan iman yang tajam: "Ya Tuhanku dan Allahku!” (ay. 28). Meskipun kemudian Yesus menunjukkan jalan iman yang lebih baik—“tidak melihat, namun percaya” (ay. 29)—toh Dia memberi ruang pada keraguan Tomas.

Bagaimana kita menanggapi keraguan atau pertanyaan kritis seputar iman? Segera mencela dan menepiskannya? Atau memberi orang itu ruang untuk bergumul, mendampinginya tanpa bersikap merendahkan (bdk. Roma 14:1)? Ketika keraguan itu memperoleh jawaban, kita akan menemukan pengakuan iman yang kokoh.

JAYAPURA, 05 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Rabu, 04 Juli 2018

BERBESAR HATI


How are you today....?
Nats: ayat 30
Yohanes 3:22-36

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 52-59



Charles Dickens pernah memberikan pernyataan tentang siapakah sebenarnya orang yang disebut terbesar itu. Ia berkata, “Ada orang besar yang menjadi besar dengan cara mengecilkan dan merendahkan orang lain. Tetapi, seorang besar sejati adalah seorang yang mampu membuat setiap orang merasa dirinya besar.”

Hampir setiap orang ingin menjadi nomor satu dan terkemuka. Tidak semua orang mempunyai kebesaran hati untuk menjadi orang nomor dua. Namun, Yohanes Pembaptis memahami benar arti sebuah kebesaran sejati. Di saat begitu banyak orang mulai ribut dan membanding-bandingkannya dengan Yesus, Yohanes Pembaptis justru menunjukkan kebesaran hatinya. Pernyataannya bahwa Yesus harus makin besar, tetapi ia harus makin kecil menunjukkan betapa ia tidak berusaha membesarkan dirinya sendiri. Ia tahu panggilan Tuhan baginya sebagai pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang (ay. 28). Tujuan hidupnya adalah mengarahkan hati orang-orang kepada Yesus, Sang Mesias, dan bukan kepada dirinya sendiri.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana reaksi kita ketika di hadapan kita berdiri orang-orang yang siap menggantikan posisi kita? Apa reaksi kita ketika banyak orang mulai membanding-bandingkan kemampuan kita dengan orang lain? Apakah kita mulai terganggu? Seorang besar sejati tentu tidak akan terganggu dengan semua itu. Sebaliknya, ia akan menunjukkan kebesaran hatinya untuk membuat orang lain merasa dirinya besar. Ia akan memberi dukungan dan turut senang dengan keberhasilan orang lain

JAYAPURA, 04 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id

Selasa, 03 Juli 2018

BIARLAH IA MENGUTUK


How are you today....?
Nats: ayat 10
2 Samuel 16:5-14

Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?

Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 46-51

Peristiwa tawuran mengisyaratkan lemahnya karakter para pelakunya. Gejolak hati yang penuh kebencian terungkap baik secara lisan maupun melalui tindakan saat para pelajar itu bertikai. Ungkapan lisan yang penuh amarah segera bergeser menjadi pertarungan fisik yang sengit. Tragisnya, tawuran tak jarang menyebabkan tewasnya beberapa pelaku.

Daud bersikap lain. Ketika melarikan diri dari Yerusalem, ia bertemu dengan Simei bin Gera, kaum keluarga Saul (ay. 5). Sepanjang perjalanan, Daud dan rombongan mendengarkan perkataan kutukan Simei. Kutukan yang lahir dari kepahitan dan kebencian. Tidak cukup dengan perkataan, Simei juga melempari rombongan Daud dengan batu (ay. 6). Abisai, salah seorang pegawai raja, marah dan meminta izin Daud untuk memenggal kepala Simei. Daud malah menegur Abisai dan mengatakan bahwa hal itu bukan urusannya. Menurut Daud, jika Tuhan menghendaki Simei mengutuk, tidak ada seorang pun yang dapat mengalanginya. Daud tidak mencari-cari kesempatan untuk membalas perbuatan Simei. Ia yakin dan percaya penuh akan kedaulatan Tuhan. Tuhan sajalah yang dapat mengendalikan setiap situasi yang ia hadapi (ay. 10-13).

Bagaimana dengan kita? Ketika kita menghadapi perkataan yang menyakitkan atau tindakan yang membangkitkan kemarahan, hati kita adalah kunci utamanya. Maukah kita, seperti yang telah Daud lakukan dalam menghadapi Simei, bersabar dan menyerahkan situasi tersebut ke dalam kendali Tuhan?

JAYAPURA, 03 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Senin, 02 Juli 2018

TETAP PERCAYA ATAU PROTES??


How are you today....?
Nats: ayat 10
Ayub 1-2

Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?

Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 40-45

Ayub orang terkaya pada masanya, saleh dan takut akan Allah. Dia memiliki banyak harta dan hidupnya damai sejahtera. Dia menikmati hari-harinya dengan bersemangat. Lalu, Tuhan mengizinkan Iblis mengambil semua yang ia miliki. Seluruh tubuhnya—dari telapak kaki sampai batu kepalanya—pun penuh dengan barah busuk. Orang dapat melihat dengan jelas betapa berat penderitaan. Tetapi, Ayub tidak protes: “Saya sudah melakukan semua kehendak-Mu, mengapa hal ini terjadi sama saya?” Ayub justru berkata, “Aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal Firman Yang Mahakudus” (Ayub 6:10). Artinya, Ayub siap menerima baik perkara yang baik maupun perkara yang buruk dari Tuhan.

Ketekunan Ayub berbuah. Pada pasal terakhir kitab Ayub, Tuhan memulihkan keadaan Ayub dan Tuhan memberikan kepadanya dua kali lipat dari segala kepunyaannya dulu. Ayub memilih tetap berpegang pada Tuhan, entah dalam keadaan baik entah dalam keadaan buruk. Terbukti, Tuhan tidak pernah membawa kita kepada keadaan yang melampaui kekuatan kita.

Mungkin yang kita alami tidak separah pengalaman Ayub. Namun, saat melewati keadaan yang buruk, masih bisakah kita percaya penuh pada Tuhan dan janji-janji-Nya? Apa yang kita lakukan jika bisnis kita gagal atau terjadi peristiwa yang tidak kita harapkan, padahal kita sudah aktif dalam pelayanan? Apakah kita akan protes atau tetap percaya bahwa janji Tuhan itu ya dan amin?

JAYAPURA, 02 Juli 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Minggu, 01 Juli 2018

GEREJA YANG MEMILIKI VISI

Shalom...
ini adalah bahan kotbah saya di gereja GBI. ROCK Jayapura pada hari Minggu, 01 Juli 2018.
Semoga bisa menjadi berkat bagi saudara yang membaca.
God Bless...