Minggu, 17 Juni 2018

RAHASIA HIDUP YANG BERBUAH
















TIDAK USAH MINDER


How are you today....?
Nats: ayat 33
1 Samuel 17:12-39

Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 9-12

Seorang dokter ditempatkan di rumah sakit terkenal, berdampingan dengan seorang dokter spesialis senior. Tentu saja, ia merasa minder. Apalagi dokter senior itu seakan memandangnya dengan sinis. Suatu saat ia berbicang-bincang dengan istri dokter senior itu. Ibu itu mendorongnya agar tidak minder, dan agar menggunakan kesempatan itu untuk menimba pengalaman dari suaminya. Hal itu pasti akan menjadi bekal yang berharga bagi kemajuan kariernya.

Daud juga dipandang sinis dan tidak dipercaya oleh orang lain ketika ia hadir dalam kancah peperangan orang Israel melawan orang Filistin. Bukan hanya dari kakak-kakaknya dan orang banyak yang ada pada saat itu, tetapi juga dari Raja Saul. Ia memang bukan prajurit; ia seorang gembala domba. Tetapi, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menghadapi musuh yang merendahkan Allahnya. Allah pernah menyertainya dalam menaklukkan singa dan beruang di padang penggembalaan. Masakan Allah tidak sanggup menjatuhkan orang Filistin bermulut besar ini? Benarlah, dengan penyertaan Allah, Daud yang masih bocah berhasil menggulingkan Goliat.

Kemampuan kita adalah karunia Allah. Jangan meremehkannya. Manfaat kemampuan itu bukan ditentukan oleh usia atau pengalaman kita, melainkan oleh Tuhan. Ya, pengalaman yang sederhana sekalipun dapat dipakai-Nya untuk mencapai tujuan yang besar. Jangan biarkan pandangan sinis orang lain menghentikan langkah kita. Dalam penyertaan-Nya, kita dapat mendayagunakan kemampuan secara optimal.

Happy sunday guys....
JAYAPURA, 16 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Sabtu, 16 Juni 2018

MEMUJI TUHAN DENGAN ALAT MUSIK

How are you today....?
Nats: ayat 3
Mazmur 150:1-6

Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! (Mazmur 150:3)

Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 5-8

Dokumen gereja dari abad-abad pertama, termasuk Perjanjian Baru, tidak mencatat pemakaian alat musik dalam ibadah gereja. Kemungkinan, hal ini disebabkan adanya asosiasi negatif dari alat musik. Pada saat itu, alat musik memang lebih sering dipakai dalam penyembahan berhala. Tidaklah mengherankan, orang Kristen perdana menjadi gamang terhadap penggunaan alat musik untuk ibadah mereka.

Benarkah alat musik tidak boleh dipakai dalam ibadah? Mazmur 150 terang-terangan mendorong pemakaian alat musik dalam ibadah. Namun, ada dua prinsip penting yang harus diindahkan. Pertama, alat musik harus menolong nyanyian orang percaya. Ayat 1-2 berbicara tentang pujian yang dilantunkan dengan suara manusia. Setelah itu, barulah aneka alat musik disebutkan. Hal ini menunjukkan urutan kepentingan. Dalam ibadah, suara manusia menempati prioritas pertama. Saat alat musik begitu bising dan mempersulit jemaat bernyanyi, alat musik telah disalahgunakan. Kedua, permainan alat musik harus dilandasi oleh sikap hati yang menyembah Tuhan. Perhatikan frase “Pujilah Dia” yang mendahului penyebutan setiap alat musik. Permainan alat musik harus dilandasi oleh hati yang memuji Allah.

Kembangkanlah dan persembahkanlah kemampuan Anda dalam bermain alat musik untuk membantu penyembahan jemaat. Mainkanlah alat musik berdawai, tiup, dan perkusi dengan terampil. Ketahuilah, Allah menyukai permainan alat musik yang dilakukan dengan hati yang memuliakan Dia. Betapa indahnya memuji Tuhan!

JAYAPURA, 16 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id

Jumat, 15 Juni 2018

KEHIDUPAN YANG BERMUKA DUA


How are you today....?
Nats: ayat 23
Yehezkiel 21:18-32

Tetapi bagi mereka, itu adalah tenungan yang menipu, walaupun mereka mengangkat sumpah yang muluk-muluk; tetapi ia mengingat kesalahan mereka, sehingga mereka ditangkap. (Yehezkiel 21:23)

Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 1-4

Banyak pendatang baru yang muncul lewat ajang pencarian bakat di berbagai televisi. Salah satunya adalah Hudson-Jessica, si penyanyi berwajah dua asal Yogyakarta. Jika wajah Hudson yang ditampilkan, suara pria pun diperdengarkan; jika wajah Jessica, suara perempuan dilantunkan. Suatu bakat yang luar biasa dari seorang artis berwajah dua.

Artis berwajah dua menakjubkan. Tetapi, bagaimana jika manusia bermuka dua dalam relasi dengan Tuhannya? Seperti Yehuda, umat yang terikat dengan Tuhan melalui perjanjian di Sinai. Yehuda meninggalkan Tuhan dan berpaling kepada ilah palsu. Mereka memiliki kehidupan yang bermuka dua. Di satu sisi, mereka mengaku setia kepada Tuhan, tetapi di sisi lain mereka menyembah berhala. Mereka menjalani kehidupan seperti bangsa yang tidak bertuhan, tetapi tidak merasa bersalah. Ketika tersiar kabar bahwa Babel akan menyerang Yehuda, umat Tuhan menganggap sepi isu tersebut (ay. 23). Mereka menolak pemberitaan nabi yang jelas-jelas berasal dari Tuhan. Penghukuman atas Yehuda pun tidak terelakkan lagi. Kesalahan Yehuda disingkapkan sehingga terbukti mereka memang pantas menerima hukuman. Karena menolak bertobat, Yerusalem akan menjadi puing-puing!

Kisah Yehuda mendorong kita untuk berhenti dari kehidupan ganda, dari kemunafikan. Kita dipanggil untuk mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati, bukan menggantungkan hidup pada hal-hal lain. Hanya Dialah sumber hidup dan oleh belas kasih-Nya kita beroleh jaminan kepastian keselamatan.

JAYAPURA, 15 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id

Kamis, 14 Juni 2018

DUOLOS


How are you today....?
Nats: ayat 10
Lukas 17:7-10

Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.

Bacaan Alkitab Setahun:
Ester 8-10

Film miniseri Rome menggambarkan kehidupan pada zaman Romawi, termasuk tentang perbudakan masa itu. Digambarkan bahwa seorang budak tidak pernah mempertanyakan apalagi membantah perintah majikannya. Seberat apa pun sebuah perintah, ia harus tetap menaatinya, bahkan sekalipun perintah itu dapat membuatnya terancam bahaya dan mati.

Konsep semacam inilah yang dimaksudkan oleh Alkitab ketika memakai kata “hamba” yang diterjemahkan dari sebuah kata Yunani yang dipakai untuk menyebut para budak pada zaman itu, yakni doulos. Kata ini pula yang Yesus pakai dalam nas hari ini. Sang tuan menyimbolkan Tuhan dan sang hamba menyimbolkan kita, hamba-hamba-Nya. Dijelaskan bahwa sebagaimana layaknya seorang hamba pada zaman itu, ketaatan kita kepada-Nya adalah suatu kewajiban yang mutlak. Apa pun situasi diri kita, baik sedang dalam keadaan yang baik maupun tidak baik, perintah Sang Tuan harus dikerjakan. Bahkan sekalipun Sang Tuan tampaknya tidak menghargai perbuatan kita.

Pesan semacam ini memang tidak mudah diterima oleh kita yang hidup pada zaman ini, zaman ketika kebanyakan orang terbiasa untuk bersikap mandiri dan tidak mau diatur oleh orang lain. Akan tetapi, sikap ini tidak dapat kita terapkan dalam hubungan dengan Tuhan. Ketika kita mengakui-Nya sebagai Tuhan, kita wajib menaati segala perintah-Nya secara mutlak. Sekalipun kita menghadapi tantangan yang berat karenanya, penyertaan Tuhan akan menguatkan kita dalam menjalaninya.

JAYAPURA, 14 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id

Rabu, 13 Juni 2018

MADU DARI GUNUNG BATU


How are you today....?
Nats: ayat 17
Mazmur 81:1-17

Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.

Bacaan Alkitab Setahun:
Ester 4-7

Lebah di Timur Tengah biasa membuat sarang dan menyimpan madunya di tanah, di bawah gunung batu, atau di celah-celah gunung batu. Mengapa Tuhan menjadikan “madu dari gunung batu” sebagai salah satu janji persediaan-Nya bagi kita? Bisa jadi madu dari gunung batu mewakili produk madu terbaik. Bisa jadi pula itu metafora dari sesuatu yang manis, yang timbul dari situasi yang keras atau sulit.

Ya, “gunung batu” mengacu pada tempat yang curam, terjal, dan keras. Ini salah satu gambaran perjalanan iman kita di dunia ini. Sepanjang hidup ini, kita akan banyak menghadapi tempat-tempat yang keras, banyak tantangan atas iman kita, dan perkara-perkara yang sulit diatasi. Tetapi, di tempat seperti itu sesungguhnya Tuhan sedang membentuk dan membawa kita menuju tataran iman yang lebih tinggi. Jangan pernah menyerah, sebab di tempat yang keras sekalipun, Tuhan selalu menyertai kita. Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita sendirian. Dan kita akan mengalami “berkat termanis” dari pengalaman-pengalaman berat yang kita lalui.

Mungkin kita sering bertanya mengapa Tuhan tidak menyingkirkan saja gunung batu yang keras itu dari hidup kita? Bagaimanapun, tidak ada orang yang suka melewati tempat yang keras. Namun, kita percaya bahwa Tuhan mengetahui hal terbaik yang kita perlukan. Tempat-tempat yang keras itu justru berguna untuk mengencangkan otot iman kita dan mendewasakan kerohanian kita. Dan kita akan mensyukuri madu yang timbul dari tempat keras itu.

JAYAPURA, 13 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

Selasa, 12 Juni 2018

PERBUATAN TERCELA


How are you today....?
Nats: ayat 7
Hosea 2:1-8

Tetapi dia tidak insaf bahwa Akulah yang memberi kepadanya gandum, anggur dan minyak, dan yang memperbanyak bagi dia perak dan emas yang dibuat mereka menjadi patung Baal.

Bacaan Alkitab Setahun:
Ester 1-3

Ketika kita mendengar kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatan oleh para pejabat, kadang kita tidak habis pikir. Mereka adalah orang yang telah mendapatkan keuntungan dari negara berupa kedudukan, fasilitas, dan tunjangan hidup. Seharusnya mereka berterima kasih kepada negara atas semua keistimewaan tersebut. Namun, bukannya melakukan hal-hal yang berguna bagi negara, mereka justru merampok dan merugikan negara. Sungguh tercela.

Perselingkuhan atau ketidaksetiaan bangsa Israel digambarkan secara ironis. Istri yang berselingkuh itu menceritakan asal-usul segala harta miliknya. Dengan bangga ia berkata bahwa itu semua dari Baal (ay. 4). Allah sangat tertusuk dengan pengakuan bohong ini. Allah mengingatkan bahwa Dialah yang memelihara dan mencukupkan seluruh kebutuhan Israel. Bahkan secara tidak tahu malu bangsa Israel mempergunakan pemberian Allah untuk membuat patung Baal, sembahan mereka. Fasilitas dan berkat dari Allah mereka pakai untuk melukai hati Allah. Tuhan akan menghukumnya dengan mengambil kembali berkat-Nya.

Apakah pernah kita melupakan sumber seluruh fasilitas dan berkat yang kita miliki? Pernahkah kita justru menggunakan fasilitas dan berkat yang Allah berikan untuk melakukan hal-hal yang tidak Dia kehendaki? Coba perhatikan bagaimana selama ini kita menggunakan uang, waktu, talenta, atau harta benda lainnya. Kita mempergunakannya untuk hal-hal yang menyenangkan Allah atau justru menyakiti hati-Nya?

JAYAPURA, 12 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini.
https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id