Senin, 04 Juni 2018

MERASA RENDAH


How are you today....?
Nats: ayat 12a
1 Timotius 4:11-16

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.

Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 8-9

Siapa yang mau dipandang rendah oleh sesamanya? Tidak ada. Ada orang yang menyikapinya secara positif, misalnya dengan giat bekerja agar sukses. Namun, ada pula yang menempuh jalur negatif, misalnya dengan mengorbankan nilai-nilai kebajikan agar diterima dalam suatu komunitas.

Dalam surat pertamanya kepada Timotius, Rasul Paulus mengingatkan adanya potensi tersebut dalam lingkup pelayanan jemaat. Mengapa? Ia masih muda dan berasal dari keluarga campuran. Melihat latar belakang itu saja, orang dapat merendahkannya. Apalagi Timotius melayani jemaat di kota besar, Efesus, sebuah kota pelabuhan termashyur. Di sana ada kuil Dewi Artemis yang dipenuhi dengan pelacur sebagai pelayan kuil. Uang berputar cepat di kota itu, menggoda orang untuk mengejar kekayaan. Ada banyak tawaran untuk memuaskan hasrat duniawi dengan menghalalkan segala cara.

Sebagai orang muda, Timotius pun rentan terhadap godaan itu. Bisa saja untuk lebih diterima orang, ia mengikuti saja kemauan dan ajakan orang lain. Di sinilah Paulus sebagai bapa rohani mengingatkan bahwa Timotius dapat menjadi teladan bagi orang percaya meskipun ia masih muda. Dengan berjalan menurut keinginan Roh, ia dapat menjaga perkataan dan tingkah lakunya serta mengasihi dalam kesetiaan dan kesucian hidup. Ia tak perlu “ikut arus” agar diterima oleh orang banyak.

Bagaimana dengan kita? Kiranya kita belajar mengikuti keinginan Roh untuk menjalani kehidupan yang tak bercela dan patut diteladani.

JAYAPURA, 04 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini. https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha
http:gelphyministry.blogspot.co.id

Sabtu, 02 Juni 2018

HARAM vs NAJIS


How are you today....?
Nats: ayat 8

Markus 7:14-23

“...Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Markus 7:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 6-7



Di negara kita yang religius, isu makanan bukan hanya dikaitkan dengan kesehatan, melainkan juga dengan kekudusan. Sepasang suami-istri di gereja saya bertengkar gara-gara tidak sepakat tentang boleh tidaknya makan nasi tumpeng hajatan tetangga yang melibatkan ritual mistis. Bagaimana seyogyanya sikap kita?

Orang Farisi dan ahli Taurat mengkritik Yesus karena para murid makan dengan tangan yang najis karena belum dibasuh sehingga makanan mereka pun menjadi haram (ay. 1-13). Yesus menjawab bahwa semua makanan halal (ay. 15). Ternyata permasalahannya lebih parah daripada sekadar makanan. Hati manusia sudah najis dan tercemar. Apa pun yang keluar dari hati yang najis, meskipun secara lahiriah tampak suci, tetap saja najis.

Hukum Taurat adalah simbol yang menunjuk pada Sang Mesias. Yesus menggenapinya melalui karya keselamatan-Nya, yang menyediakan solusi bagi kenajisan hati manusia. Kita tidak lagi dinajiskan atau dikuduskan oleh makanan; kita dikuduskan oleh pencurahan darah Kristus di kayu salib. Pengudusan ini berlaku pula dalam konteks yang lebih luas. Kerajaan Allah yang datang bersama dengan Yesus Kristus berkenaan dengan kesucian hati, kekudusan motivasi, bukan lagi kesucian eksternal atau jasmani.

Di dalam Kerajaan Allah, kita tidak perlu meributkan soal haram najisnya makanan. Jika khawatir menjadi “batu sandungan”, kita dapat menghindari makanan tertentu. Namun, selama makanan tersebut layak dan sehat, kenapa enggan menyantapnya?

Happy sunday guys....
JAYAPURA, 03 Juni 2018
Ps. GELPHY NARTHA S.

Silahkan download aplikasi saya di bawah ini. https://play.google.com/store/apps/detail?id=com.itant.gia.gelphynartha

http:gelphyministry.blogspot.co.id

S'MUA KAU LAKUKAN DEMI HIDUPKU1

Saat kurenungkan Gelphy

GODAAN BERDOSA

How are you today...?
Nats: ayat 12
Titus 2:11-15

Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.

Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 3-5

Seorang pelayan Tuhan menuliskan pengalaman pahitnya terjatuh ke dalam dosa perselingkuhan. Kehidupannya porak-poranda; istri dan anak-anaknya meninggalkannya. Ia mengakui, perselingkuhan itu buah dari kecanduan akan pornografi yang membelenggunya sejak muda. Ia menutup kesaksiannya dengan berkata, “Seandainya saya bisa mengendalikan diri dan berkata ‘tidak’ kepada godaan pertama dari pornografi pada waktu saya masih muda, saya tentu tidak akan terpuruk sejauh ini sekarang!”

Definisi dalam kesaksian di atas kurang lengkap dan bisa menyesatkan karena penguasaan diri terkesan semata-mata usaha kita. Padahal, penguasaan diri bukanlah kekuatan kehendak manusia belaka. Secara sederhana, penguasaan diri berarti ketegasan dan keteguhan untuk berkata ‘tidak’ terhadap godaan dosa. Dalam terjemahan NIV, ay. 12 berbunyi, “Anugerah-Nya mengajarkan kita untuk berkata ‘tidak’ kepada ketidaksalehan dan hawa nafsu duniawi.” Seperti ditegaskan oleh Paulus, anugerah Allah yang memampukan kita untuk berkata ‘tidak’ terhadap dosa (ay. 12). Tuhanlah yang menguduskan kita (ay. 14). Bukankah Galatia 5:23 juga menyatakan bahwa penguasaan diri adalah salah satu manifestasi dari buah Roh?

Apakah selama ini Anda sulit menguasai diri dari godaan dosa? Mungkinkah itu karena Anda belum sepenuhnya bergantung kepada anugerah dan kuasa Allah? Marilah kita berhenti bersandar pada kekuatan diri sendiri saja. Kita dapat datang kepada Tuhan, meminta pertolongan-Nya setiap kali pencobaan untuk berdosa muncul.

Papua, 02 Juni 2018
Salam dahsyat & semangat!
Ps. Gelphy Nartha

Silahkan download aplikasi di bawa ini.
Semoga menjadi berkat buat kita semua.
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.itant.gia.gelphynartha
https://gelphyministry.blogspot.co.id

Jumat, 01 Juni 2018

TAHU BERTERIMA KASIH

How are you today...?
Nats: ayat 35
Lukas 6:27-36

Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 1-2

Seorang gelandangan diundang ke rumah seorang kaya yang baik hati. Sambil mengganti pakaiannya yang dekil dengan pakaian baru yang diberi tuan rumah, ia berkata, “Ini baju yang bagus, namun saya tidak terlalu suka warna garis-garisnya!” Ketika menyantap hidangan, ia berkata, “Ini makanan yang enak, hanya saja ikan panggangnya terlalu gosong. Supnya pasti lebih enak kalau ditambah sedikit lagi merica. Dan, es buahnya akan lebih nikmat kalau ditambah sirup rasa leci.” Ketika ia dipersilakan beristirahat di kamar, ia berkata, “Ini kamar yang mewah, lengkap dengan pendingin ruangan. Hanya saja, kasurnya kurang tebal!” Sikap yang konyol, bukan?

Akan tetapi, jika dicermati, manusia kerap bersikap seperti si gelandangan itu terhadap Allah yang mahabaik. Kebanyakan orang cenderung tidak tahu berterima kasih kepada-Nya. Mereka lupa bersyukur pada saat tengah dilingkupi kebahagiaan. Sebaliknya, mereka mulai mempertanyakan kebaikan Tuhan ketika hal buruk menimpa mereka. Tidak jarang orang menganggap dirinya terlalu saleh sehingga tidak pantas mengalami penderitaan tertentu. “Saya sudah setia melayani Tuhan, tetapi mengapa Tuhan mengizinkan musibah ini menimpa keluarga saya?” kata mereka.

Bagaimana mengatasinya? Dengan menyadari bahwa kita diberi anugerah oleh Tuhan karena kebaikan-Nya, bukan karena kehebatan diri kita. Kesadaran ini mendorong kita untuk bersyukur kepada-Nya dan berbelas kasihan pada orang yang tidak tahu berterima kasih pada kita.

Papua, 01 Juni 2018
Salam dahsyat & semangat!
Ps. Gelphy Nartha

Silahkan download aplikasi di bawa ini.
Semoga menjadi berkat buat kita semua.
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.itant.gia.gelphynartha

https://gelphyministry.blogspot.co.id